M. MOKO
INDONESIA

IT Professional, Photographer dan Blogger. Bekerja pada perusahaan swasta sebagai Product Marketing, menyukai fotografi Macro, traveling dan outdoor sport.

Translate

Latest Video

Social Media
Supported By
ID Corners
Berlibur ke Semarang
Traveling

Berlibur ke Semarang 3 Hari 2 Malam

on
August 18, 2018

Ternyata tidak semua orang tau kalau Semarang adalah ibu kota Jawa Tengah, banyak yang berpikiran kalau ibu kota Jawa Tengah adalah Yogyakarta. Semarang menjadi Ibu Kota Jawa Tengah karena merupakan salah satu kota metropolitan terbesar ke-5 yang ada di Indonesia. Di abad ke-6 Masehi, kota Semarang merupakan sebuah pelabuhan besar yang ada di Jawa Tengah yang menjadi pelabuhan transit kapal-kapal besar dunia, salah satunya adalah Laksamana Cheng Ho yang merupakan seorang Muslim berkebangsaan China yang menjadi salah satu pelaut besar di dunia. Hal tersebut yang menjadikan Semarang menjadi salah satu kota yang sangat maju dibanding kota-kota lain sekitarnya. Semarang juga terkenal dengan wilayah yang memiliki 2 suasana kota yang sangat berbeda, yaitu kota yang berada di dataran rendah atau biasa disebut kota bawah, dan kota yang berada di dataran tinggi yang biasa disebut kota atas.

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta keluarga berkesempatan berlibur ke Semarang selama 3 hari 2 malam untuk sekedar berlibur sekaligus mengenal lebih jauh tentang kota Semarang. Yang akan saya bagikan di sini adalah cerita perjalanan kami selama 3 hari 2 malam berada di kota Semarang, semoga bisa menjadi referensi pembaca yang berencana berlibur ke kota Semarang.

Perjalanan ke Semarang cukup melelahkan karena sebelumnya kami berangkat dari Depok, Jawa Barat malam hari dengan mengendarai kendaraan roda empat. Ketika sampai di Semarang pada pukul 5.30 pagi hari adalah saat yang tepat untuk mencari sarapan khas kota  Semarang. Setelah mencari beberapa referensi dari pencarian Google, pilihan kami adalah mencoba Nasi Ayam Kemuning Mba Jum yang berlokasi di Puri Anjasmoro B1/23 Semarang. Salah satu masakan khas Semarang ini sebenarnya adalah berupa nasi, opor ayam, irisan daging ayam, sayur labu siam, telur dan krecek (bagi yang suka pedas). Sekilas mirip seperti gudeg Jogja, hanya tidak menggunakan sayur nangka saja. Menu tambahan berupa sate telur puyuh, ati ampla dan usus juga disediakan. Bagi penyuka kuliner yang baru pertama ke sini mungkin lebih baik memesan 2 porsi sekaligus, karena porsi standard di sana cukup mini untuk ukuran orang dewasa. Kios Nasi Ayam Mba Jum ini sudah buka sejak pagi sekali, pembelinya juga cukup banyak orang yang berdatangan untuk sekedar membungkus untuk dimakan di rumah atau dibawa untuk dimakan di perjalanan.

Berlibur ke Semarang

Nasi Ayam Mba Jum

Hotel yang kami pesan beru bisa check in setelah jam 2 siang, sehingga kami harus memanfaatkan waktu hingga siang hari untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota Semarang. Setalah kenyang sarapan pagi, tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Sam Poo Kong, yaitu berupa bangunan budaya China yang memiliki nilai sejarah. Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah bangunan yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Haji Mahmud Syams) pada tahun sekitar 1400an untuk tempat beristirahat ketika kapalnya berlabuh di perairan Semarang dikarenakan salah satu juru mudi kapalnya bernama Wang Jing Hong atau Kiai Juru Mudi Dampo Awang menderita sakit. Namun Laksamana Cheng Ho tidak dapat berlama-lama di sana karena harus melanjutkan perjalanan, sedangkan Wang Jing Hong akhirnya menetap di Semarang. Pada tahun 1704, Sam Poo Kong sempat terkena bencana longsor, namun segera dibangun kembali di sebelah bangunan yang lama tahun 1724. Pada tahun 1800an bangunan ini sempat dimiliki oleh seseorang keturunan Yahudi bernama Mr. Johanes dan menerapkan biaya yang besar untuk dapat memasuki bagunan ini, namun kemudian dibeli oleh seorang pengusaha lokal keturunan China bernama Oei Tjie Sing pada tahun 1879 dan membolehkan siapa saja untuk masuk secara gratis. Setelah kepemilikan dialihkan kepada Yayasan Sam Poo Kong, bagunan ini direnovasi secara keseluruhan pada tahun 1937, salah satunya adalah dibangun kelenteng (tempat peribadatan agama Kong Hu Cu) di samping bangunan Sam Poo Kong. Di depan bangunan utama sendiri terdapat patung Laksamana Cheng Ho yang tegak berdiri berlapis emas. Untuk bisa masuk ke area pelataran bangunan, wisatawan harus membayar Rp. 10,000 per orang, sedangkan jika ingin menjelajah masuk ke dalam bangunan, perlu menambahkan Rp. 20,000 per orang. Di dalam bangunan banyak terdapat ornamen yang menceritakan sejarah berdirinya bangunan tersebut.

Berlibur ke Semarang

Sam Poo Kong
Berlibur ke Semarang

Sam Poo Kong

Tujuan wisata berikutnya yang kami kunjungi adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang beralamat di Gayamsari, Sambirejo, Semarang. Masjid ini adalah salah satu bagunan masjid karya arsitektur Ir. H. Ahmad Fanani yang memiliki luas kurang lebih 10 hektar dengan 3 bangunan utama berbentuk huruf U yang memiliki nuansa campuran Jawa dan Arab. Bangunan utama yang merupakan tempat sholat utama memiliki 4 menara di atapnya, sedangkan 2 gedung lainnya berupa auditorium dan perpustakaan. Di tengah-tengah antara ketiga bangunan tersebut terdapat 6 payung hidrolik seperti yang berada di Masjid Nabawi, Madinah yang berfungsi untuk melindungi jamaah dari hujan dan panas matahari. 6 Payung ini adalah simbol rukun iman yang berjumlah 6 dalam ajaran Islam. Pada bagian depan, terdapat tembok melengkung yang berdiri di atas 25 pilar. 25 Pilar ini melambangkan jumlah Nabi dalam ajaran Islam. Di bagian tembok itu juga terdapat kaligrafi 99 nama Allah. Pada bagian dalam ruang masjid utama terdapat Al Quran berukuran 145x95cm yang ditulis dengan tangan oleh Drs. Khyatudin dan juga terdapat bedug raksasa berukuran 3m dengan diameter lebih dari 2m.

Berlibur ke Semarang

Masjid Agung Jawa Tengah
Berlibur ke Semarang

Bagian dalam Masjid Agung Jawa Tengah

Setelah puas berkeliling masjid dan sekaligus sholat dhuhur, saatnya kami untuk check in ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Karena sudah terlalu letih, tak banyak yang kami lakukan di siang ini, hanya memanfaatkan waktu di hotel untuk bersih-bersih dan beristirahat.

Sore hari sekitar jam 4, kami lanjutkan menjelajah kota Semarang, kali ini yang menjadi tujuan kami adalah bangunan yang menjadi icon kota Semarang, apalagi kalau bukan Lawang Sewu. Lawang Sewu berada di tengah-tengah kota Semarang, tepatnya di Jl. Pemuda, Sekayu, Semarang. Lawang Sewu adalah bangunan bersejarah yang duluya digunakan sebagai kantor Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda. Arsiteknya adalah orang berkebangsaaan Belanda bernama Cosman Citroen, pembangunannya berlangsung selama 3 tahun yaitu pada tahun 1904 hingga 1907. Namun secara keseluruhan bangunan baru lengkap seperti sekarang di tahun 1919.

Berlibur ke Semarang

Lawang Sewu
Berlibur ke Semarang

Arsitektur Lawang Sewu
Berlibur ke Semarang

Lorong di Lawang Sewu

Lawang Sewu dalam sejarahnya memiliki cerita yang kelam, dalam masa penjajahan Jepang gedung ini diambil alih oleh pemerintahan Jepang. Ruang bawah tanahnya digunakan untuk penjara bawah tanah atau lebih tepatnya sebagai ruang penyiksaan. Dalam sejarahnya pada jaman pendudukan Jepang, di ruang bawah Lawang Sewu terdapat penjara yang disebut penjara jongkok, yaitu berupa penjara berbentuk bak yang memiliki ketiggian setengah meter dan di dalamnya terdapat para tahanan hanya bisa berjongkok saja karena pada bagian atas ditutup dengan terali besi, bak tersebut lalu diisi dengan air hingga seleher sehingga para tahanan tersebut akhirnya mati. Ada lagi penjara yang hanya berukuran 1×1 meter yang akan diisi 8 orang tahanan berhimpit-himpitan. Selain itu ada juga alat pemasungan yang berfungsi untuk memasung para tahanan. Banyak sekali eksekusi kematian di dalam penjara tersebut pada masa itu. Hal tersebut yang menyebabkan Lawang Sewu memiliki nuansa angker dan mistis, banyak cerita-cerita mistis terkait Lawang Sewu ini seperti penampakan none Belanda yang ketakutan, suara jeritan-jeritan aneh maupun aroma anyir darah di sekitar lokasi Lawang Sewu. Menurut informasi pemandu di sana, ruangan bawah tanah di Lawang Sewu ini sebenarnya banyak terhubung oleh terowongan-terowongan bawah tanah ke gedung-gedung tua yang ada di Semarang.

Di sisi lain, Lawang Sewu sebenarnya memiliki keindahan arsitektur gedung tersendiri. PT. KAI DAOP IV sebagai pengelelola gedung ini sebenarnya sudah berusaha untuk menghilangkan kesan mistis pada gedung Lawang Sewu ini. PT. KAI lebih mengedepankan Lawang Sewu sebagai wisata edukasi dan sejarah dari pada hanya sekedar cerita mistis yang belum diketahui kebenarannya. Memang gedung ini memiliki arsitektur cantik bernuansa klasik, banyaknya pintu di dalam gedung ini membuat gedung ini sangat fotogenic dan instagramable bagi para wisatawan yang ingin berfoto di sana.

Berkeliling di Lawang Sewu tidak terasa hari sudah gelap, perut juga sudah terasa lapar sehingga kami pun bersiap untuk mencari makan malam. Kami berencana untuk mampir ke Waroeng Semawis yang merupakan pusat kuliner yang cukup terkenal di Semarang yaitu berupa pasar malam yang menjual aneka macam makanan dan hanya buka di saat weekend saja. Waroeng Semawis berada di kawasan Pecinan Semarang, jenis makanan yang ada di sana sangat beragam, mulai dari jajanan ringan seperti pisang plenet, leker, tahu gimbal hingga makanan berat seperti aneka seafood, barbaque dan kambing guling. Selain makanan khas Semarang, banyak pula makanan khas kota lain dan negara lain seperti gudeg Jogja, roti parata dari India, ramen Jepang, spaghetti Italy dan lain-lain.

Berlibur ke Semarang

Waroeng Semawis
Berlibur ke Semarang

Menu seafood yang kami pesan di Waroeng Semawis

Setelah kenyang mencoba berbagai makanan di Waroeng Semawis, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat agar besok bisa kembali mengeksplorasi beberapa tempat menarik lainnya.

Pagi hari setelah sarapan di hotel, kami bersiap untuk mengunjungi tempat wisata lainnya di Semarang. Kali ini yang akan menjadi tujuan kami adalah sebuah objek wisata Goa Kreo di Kandri, Gunung Pati, Semarang. Yaitu obyek wisata berupa pulau kecil yang berada di tengah-tengah waduk Jatibarang yang dihubungkan dengan sebuah jembatan.  Menurut cerita para pemandu wisata setempat, wisata ini dulunya adalah tempat dimana Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangun masjid Agung Demak. Di sana juga terdapat 2 goa yaitu goa Kreo dan goa Landak yang dipercaya warga goa tersebut sebelumnya memiliki lorong yang sangat panjang hingga ke Demak atau Kendal. Di area tersebut banyak sekali kera liar yang berkeliaran sekeliling objek wisata yang menurut warga sekitar kera tersebut adalah para anak buah Sunan Kalijaga ketika mencari kayu jati. Walaupun hidup liar, kera-kera tersebut terlihat tidak begitu perduli dengan banyaknya wisatawan yang datang, terbukti ada beberapa ekor kera yang melewati kami saat kami sedang beristirahat. Pemandangannya sangat indah dan merupakan spot yang cukup instagramable untuk berfoto. Di sekeliling objek wisata ini, banyak sekali tempat-tempat yang menawarkan spot foto dengan latar belakang waduk Jatibarang seperti foto di atas awan, foto di rumah bambu, foto di gardu pandang dan lain-lain.

Berlibur ke Semarang

Waduk Jatibarang yang mengelilingi Goa Kreo

Tak jauh dari objek wisata goa Kreo ini, terdapat kios ayam dan bebek goreng yang cukup terkenal di Semarang, namanya Ayam dan Bebek Goreng “Sari Rasa” (Pak Thori). Setalah lelah berkeliling di goa Kreo, kami menyempatkan untuk makan siang di sini, terbukti memang bebek gorengnya renyah dan krispi. Terdapat 2 macam sambal yang disediakan di sana, yang tidak terlalu pedas berwarna merah dan yang sangat pedas berwarna hijau. Sayangnya kami tak sempat mengambil foto di tempat ini.

Sore hari, kami sempatkan untuk mengunjungi kampung warna-warni yang cukup terkenal di Semarang dengan nama Kampung Pelangi. Tempat ini sebenarnya adalah sebuah kampung biasa, namun seluruh warganya sepakat untuk mengecat seluruh tembok rumah bagian luar dengan cat warna-warni sehingga membuat kampung ini menjadi incaran para wisatawan yang ingin berfoto dengan background warna-warni. Kontur tanah di kampung ini cukup unik karena kampung bagian depan sejajar dengan jalan raya, namun semakin ke belakang semakin tinggi dengan kemiringan 45 derajat. Bagian jalan berupa undakan tangga-tangga menanjak, sedangkan bagian paling atas adalah pemakaman warga. Kami sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cara warga membawa jenazah ke pemakaman ketika ada warga yang meninggal melalui kondisi jalan dengan kemiringan tersebut. Karena penasaran, akhirnya kami bertanya langsung kepada warga setempat. Dijelaskan oleh warga setempat bahwa ada jalan lain melalui jalan raya yang bisa dilalui mobil, jika ada warga desa yang meninggal dunia, maka jenazah dibawa menggunakan ambulan melalui jalan alternatif tersebut.

Berlibur ke Semarang

Seluruh bagian tembok dicat warna-warni
Berlibur ke Semarang

Salah satu rumah di Kampung Pelangi

Sehabis makan malam di Soto Bangkong yang merupakan soto khas di Semarang, kami habiskan waktu hingga malam hari untuk bermain-main di lapangan Simpang Lima. Lapangan ini adalah salah satu landmark kota Semarang. Lapangan dengan nama Lapangan Pancasila ini banyak dipadati oleh orang-orang yang yang ingin berolah raga atau sekedar berjalan-jalan menghabiskan malam bersama-sama. Sepanjang pinggiran lapangan Simpang Lima banyak sekali becak hias dan sepeda tandem yang ditawarkan dengan harga Rp. 30rb – 50rb, namun harganya bisa naik di saat-saat hari libur anak sekolah atau saat Lebaran. Di seberang lapangan Pancasila, terdapat pusat kuliner yang menjual berbagai macam makanan, mulai dari aneka seafood, nasi pecel, sate, ayam/bebek goreng dan lain-lain.

Berlibur ke Semarang

Suasana di lapangan Pancasila Simpang Lima pada malam hari

Hari terakhir kami di Semarang adalah saatnya mencari oleh-oleh khas Semarang. Jika menyebutkan kata Semarang, oleh-oleh yang diingat adalah lumpia Semarang, sayangnya kami tak memiliki banyak waktu sehingga tidak sempat mampir ke pusat lumpia Semarang yang ada di jalan Pemuda, kami hanya sempat mampir ke toko oleh-oleh yang banyak di sepanjang jalan Padanaran. Beberapa oleh-oleh di Semarang selain lumpia adalah bandeng presto, tahu bakso dan wingko babat banyak tersedia di sepanjang jalan Padanaran.

Sampai disini dulu cerita kami mengenai itinerary kami selama berlibur ke Semarang. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi para pembaca yang juga akan berlibur ke Semarang.

TAGS
18 Comments
  1. Reply

    ramadani idaham

    August 26, 2018

    Dan gua adalah salah satu orang yang nggak tau Semarang adalah ibu kota nya ckxk, mantappp kulinernya ckck daard gua cari makan aja pikirannya heheh

    • Reply

      Mauliddin Moko

      August 26, 2018

      Hahahaha, ternyata banyak yg gak tau Mas….wkwkwkwk

  2. Reply

    Ternyata Aku Mirip Dilan

    August 26, 2018

    Kagum sama masjid itu,
    Penasaran sama kampung pelangi

    Kok ga mampir ke kota lama kang,

    • Reply

      Mauliddin Moko

      August 26, 2018

      Iya gak sempat waktunya, mungkin butuh waktu 1 minggu supaya bisa jelajah semua spot menarik di Semarang

  3. Reply

    Nurul Sufitri

    September 2, 2018

    Halooo Mas Moko, pa kbr? Waah asyik ya ke Semarang tapi bentar amat 3 hari 2 malam lewat jalan darat pula hihii btw siapa yg nyetir? Seminggu baru cukup 😀 Emang bener deh kebanyakan orang bepikir bahwa ibukota Jawa Tengah itu Yogyakarta ya pdahal mah Semarang jawabannya. Ke Lawang Sewu dan Masjid Agung aku beluuum pernah, ke Semarang hanya sering lewat aja. Gara2 Mas Moko kasih gambar yg kece (ah kan fotografer hihii 🙂 aku jadi kepikiran mampir ke tempat wisatanya kapan2. Tq infonya keren!

    • Reply

      Mauliddin Moko

      September 2, 2018

      Nyetir sendiri Mba…..gak ada gantiannya hahahaha, malah dari kota Semarang langsung ke Malang itu, tapi untuk kota Malangnya belum sempet nulis hehehehe

  4. Reply

    Dirman

    September 11, 2018

    Kapan-kapan jika berkunjung lagi ke semarang, bisa jalan-jalan bareng, pak, kebetulan Ibu mertua saya dekat dari kampung pelangi 🙂

    • Reply

      Mauliddin Moko

      September 15, 2018

      Wah kalau tau mampir dulu kemarin hehehehehehe

  5. Reply

    dinilint

    October 9, 2018

    Welome to Semarang!
    Eh udah balik ni ya pasti.
    Makanan Semarang emang bikin kangen. Banyak banget aku ketemu orang yang jalan-jalan ke Semarang demi wisata kuliner.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      October 9, 2018

      Hahahaha….ya udah balik lah Mba……..tapi emang bener sih, Semarang itu Ok banget buat wisata kuliner

  6. Reply

    Bara Anggara

    October 15, 2018

    3 hari 2 malam ternyata cukup juga yah keliling ke beberapa tempat ikonik di Semarang.. Aku sendiri terakhir ke Semarang kayanya jaman SMP dulu deh,, sekitar 15-17 tahun lalu.. Padahal aku orang Jateng hahaha…

    Paling penasaran sama lawang sewu, apalagi kalau ditambah bumbu-bumbu mistisnya wuiiiih, serem tapi nagih wkwk

    -Traveler Paruh Waktu

    • Reply

      Mauliddin Moko

      October 16, 2018

      Iya mas, Semarang itu berkesan banget, terutama kulinernya

  7. Reply

    nur rochma

    October 18, 2018

    3 hari 2 malam terasa cepat buat keliling Semarang. Nggak mampir ke kota lama, mas? Instagrammable. Cuma rasanya bakal ngubek-ubek Semarang dari barat ke timur.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      October 20, 2018

      Kota lama sebenernya udah diplan di hari ke-2 Mba, tapi udah gak sempat dan udah pada lelah semuanya hahahaha

  8. Reply

    Evi

    October 20, 2018

    Selama aku makan nasi ayam, rasanya Nasi Ayam di Semarang belum berjumpa tandingannya di tempat lain. Nasinya wangi daun, kuah santannya gurih, dan ayamnya empuk. Terbayang deh gimana kalau dimakan malam-malam kayak gini 🙂

    • Reply

      Mauliddin Moko

      October 21, 2018

      Yes bener Mba, kalo denger nasi ayam, pasti ingetnya Semarang hahahaha

  9. Reply

    Nurul Sufitri

    November 1, 2018

    oooh Lpaangan Pancasila ya nama landmark Kota Semarang? Btw aku kok ya belum pernah bener2 nyobain jalan2 seru di Semarang, sering lewat doang. Belom juga kuliner soto bangkong, kata suami sih enak. Ada sepeda n becak hias juga ya kayak di Jogja. Pasti lebih mahal pas musim liburan tuh, mas Moko.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      November 1, 2018

      Sekali2 sempetin Mba, Semarang ok untuk wisata kulineran, jenis makanannya banyak banget

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.