Garis Batas

Traveling & Science Blog

Penuh Sesaknya Wisata ke Candi Borobudur Saat Peak Session

Candi Borobudur

Stupa Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi terbesar agama Budha yang ada di Indonesia, didirikan oleh Mahayana pada tahun 800 M di masa pemerintahan wangsa Syailendra. Pada tahun 1991, candi ini pernah dinobatkan menjadi 7 keajaiban dunia oleh UNESCO dan termasuk dalam daftar salah satu peninggalan sejarah dunia. Sebenarnya candi ini dulunya pernah terkubur oleh lahar dingin, namun sekitar tahun 1814 M, ditemukan kembali oleh HC. Cornelius saat pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffless.

Baca juga: Pantai Glagah Yogyakarta, Pantai dengan Laguna yang Indah

Parkiran dan Fasilitas Candi Borobudur

Libur Lebaran tahun lalu, saya dan keluarga menyempatkan diri berkunjung ke Candi Borobudur yang ada di Magelang. Perjalanan dimulai pagi hari sekitar pukul 9 pagi dan sudah dirasakan lalu lintas yang cukup padat dari Purworejo menuju ke Magelang, mungkin karena masih dalam suasana arus mudik Lebaran. Sampai di komplek sekitar candi Borobudur, ternyata tidak lebih lenggang dari lalu lintas sebelumnya. Dari jalur utama Jalan Jenderal Sudirman menuju ke pintu masuk utama Candi Borobudur sudah ditutup, tidak ada kendaraan lagi yang diperbolehkan masuk. Semua kendaraan yang baru datang diarahkan ke sisi Utara Candi melalui Jalan Syailendra. Sepanjang jalan Syailendra ini ternyata banyak sekali titik-titik parkir tidak resmi yang dikelola oleh warga yang tinggal di sekitar Candi Borobudur, yang akhirnya sayapun berhenti di salah satu penyedia jasa parkir tersebut. Biaya yang saya keluarkan untuk parkir adalah sebesar Rp. 10,000 per mobil, dibayarkan di awal saat kita memarkir kendaraan kita.

Candi Borobudur

Panas terik dan perjalanan cukup jauh ketika menuju lokasi candi

Ketika baru turun dari mobil, banyak sekali pedagang yang menawarkan oleh-oleh untuk dibawa pulang, padahal kami baru saja sampai. Selain menawarkan oleh-oleh, ada juga pedagang yang menawarkan topi lebar dan menyewakan payung. “Di area candi panas terik, dan mahal jika harus membeli topi lebar atau menyewa payung di dalam”, begitulah rayuan dari para pedagang dan akhirnya saya membeli 2 topi lebar untuk digunakan oleh istri saya dan anak perempuan saya. Harganya lumayan mahal, Rp. 25,000 untuk satu topi.

Ternyata dari lokasi parkir mobil kami menuju ke Candi masih sangat jauh, setelah berjalan kira-kira 100 meter, kami baru menemukan lokasi parkir resmi yang memang sudah sangat penuh dengan kendaraan. Mungkin inilah yang menyebabkan pintu utama Candi Borobudur ditutup. Dari lokasi parkir utama menuju pintu masuk utama banyak sekali kios-kios oleh-oleh yang menjajakan mulai dari pernak pernik khas borobudur sampai pajangan patung Budha berukuran besar. 5 Menit kemudian, baru kami menemui loket utama pembelian tiket.  Untuk dapat memasuki kawasan candi Borobudur, pengunjung dewasa dikenakan biaya sebesar Rp. 30,000. Sedangkan untuk anak di bawah 6 tahun hanya dikenakan biaya Rp. 12,500.

Kami masih harus berjalan sekitar 1 km lagi dari loket masuk hingga ke lokasi candi. Cukup lumayan melelahkan apalagi berjalan di kondisi panas yang sangat terik. Rupanya para pedagang tadi tidak bohong, panas mataharinya memang sangat terik, adanya topi lebar dan payung cukup berguna untuk menghalau panas. Sepanjang perjalanan menuju ke candi, ada beberapa wahana yang dapat dinikmati dengan membayar tiket tambahan seperti naik gajah, kereta wisata dan ada juga atraksi barongsay.

Penuh Sesak di Candi Borobudur ketika Peak Session

Tiba di pintu gerbang candi, ada petugas candi lainnya yang melakukan pemeriksaan dengan detektor logam. Mungkin khawatir ada yang membawa senjata api atau senjata tajam, lalu merusak situs budaya di sana. Ternyata perjuangan kita bukan hanya sampai di sini, dari gerbang candi, kita masih harus berdesakan menaiki anak tangga untuk bisa mencapai puncak candi yang berupa sebuah stupa berukuran besar yang berada di tengah-tengah candi Borobudur. Di puncak candi, kami temukan beberapa biksu berpakaian oranye terlihat sedang mengadakan ritual di dekat stupa tersebut.

Baca juga: Terdampar Sehari di Kota Banjarnegara

Candi Borobudur

Berdesakan dengan para wisatawan lainnya di tangga candi
Candi Borobudur

Mencari spot foto yang sepi pun sulit

Mungkin karena saat itu adalah peak session, wisatawan yang mengunjungi candi Borobudur berdesakan sangat banyak. Petugas candi mengatur arus wisatawan menjadi 1 arah, yaitu satu jalur tangga digunakan untuk naik, dan jalur tangga di sisi lainnya digunakan untuk turun. Saking penuhnya wisatawan yang berseliweran, untuk berfotopun sulit sekali mencari spot yang sepi.

Candi Borobudur

Tangga candi seperti lautan wisatawan

Setelah puas berfoto-foto di atas candi, kamipun turun melalui tangga turun, di bawah banyak pedagang pernak-pernik dan oleh-oleh yang sangat aktif menawarkan dagangannya kepada para wisatawan. Banyak wisatawan yang sebelumnya tidak tertarik dengan barang yang ditawarkan namun akhirnya membeli barang tersebut.

Saran Berwisata ke Candi Borobudur

  1. Ambilah cuti dan berkunjunglah ke candi Borobudur di saat low session, selain tidak terlalu berdesakan, kita pun dapat menikmati kemegahan candi dengan lebih maksimal
  2. Sebaiknya bawa payung sendiri dari rumah agar tidak perlu menyewa payung agar tidak kepanasan
  3. Sebisa mungkin, parkirlah kendaraan Anda di tempat parkir utama yang resmi, agar saat menuju ke candi, tidak berjalan kaki terlalu jauh
  4. Untuk oleh-oleh candi Borobudur, banyak sekali dijajakan di sekitar candi, namun kita akan mendapat harga yang jauh lebih murah jika kita membelinya di toko oleh-oleh yang ada di pasar terdekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Garis Batas 2015