Garis Batas

Traveling & Science Blog

Goa Buniayu, 4 jam Berada Dalam Perut Bumi

Goa Buniayu menjadi topik utama pada petualangan kami sekeluarga menelusuri goa di daerah Cipicung, Buniayu, Sukabumi. Expedisi goa yang menjadi tujuan kami adalah goa vertikal (goa kerek) yang memang ditujukan untuk para pengunjung yang memiliki minat khusus terhadap penelusuran goa. Sebenarnya selain goa vertikal, ada juga 2 goa horisontal yang banyak dikunjungi wisatawan dengan kategori minat umum penelusuran goa, namun kami memang bermaksud mencoba sesuatu yang baru dan lebih menantang.

Goa Buniayu

Sebagian besar lorong goa adalah aliran sungai bawah tanah dengan kedalaman bervariasi

Sejarah Goa Buniayu dan Pengembangannya

Masyarakat sekitar biasa menyebut goa ini dengan nama goa Cipicung karena berada di kampung Cipicung, namun ada juga yang menyebutkan dengan nama goa siluman karena pada awalnya tidak ada yang berani masuk ke goa tersebut karena dipercaya banyak terdapat siluman yang menjaga goa tersebut. Goa ini sendiri tepatnya ada di kawasan Perhutani di kampung Cipicung, desa Kerta Angsana, Nyalindung, Sukabumi. Di sekitar kampung Cipicung ada lebih dari 84 goa yang semuanya saling berhubungan, namun hanya 3 goa saja yang dibuka sebagai kawasan wisata, yaitu goa Cipicung/Buniayu (200m), goa Landak (400m) dan goa Kerek (1,500m). Sejarahnya goa tersebut ditemukan oleh warga setempat bernama Ki Daeng, seorang yang memiliki hobi memancing yang sedang mencari ikan hingga memasuki goa tersebut. Namun baru di tahun 1980an dilakukan penelitian dan penelusuran goa oleh ilmuan Perancis bernama Dr. Robby KT. Ko yang merupakan pendiri HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia). Dan baru dibuka sebagai objek wisata sekitar tahun 1993. Dr. Robby KT. Ko inilah yang sangat berperan dalam mengembangkan goa Buniayu ini menjadi kawasan wisata. Selanjutnya Buniayu Adventure & Training (BAT) didirikan oleh salah satu lulusan terbaik dari HIKESPI bernama Pak Ferry Saputra yang bertujuan untuk semakin mengembangkan wisata goa (speleotourism) di wilayah tersebut. Maraknya penambangan batuan karst sebagai bahan baku semen menjadi salah satu penyebab rusaknya ekosistem yang ada di dalam goa, selain itu juga dapat mengganggu keseimbangan alam. Adanya wisata goa ini diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya kawasan karst di muka bumi ini karena dapat dapat menyimpan cadangan air yang dibutuhkan oleh semua mahluk hidup. SAVE KARST…….!!!

Penelusuran goa ini memang sudah kami rencanakan sejak  sebulan sebelumnya, kami dibantu oleh team dari Buniayu Adventure & Training (BAT) untuk mendapat kesempatan menelusuri goa Buniayu. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 3.5 jam dari kediaman kami di Depok untuk menuju ke lokasi. Sesuai anjuran dari Qonita, salah satu team dari BAT, jika menggunakan bantuan GPS, kami jangan langsung menuju ke Wana Wisata Goa Buniayu, namun harus menuju ke Terminal Jubleg dahulu, setelah sampai di terminal tersebut, baru kami lanjutkan GPS dengan tujuan Wana Wisata Goa Buniayu, hal tersebut agar tidak tersasar melalui jalan-jalan sempit yang ditunjukan oleh GPS.

Baca juga: Berkemah pada 1700mdpl di Kampung Cai Ranca Upas Ciwidey

Jam 8 pagi kami sudah tiba di basecamp BAT yang terletak di camping ground goa Buniayu, disambut oleh Qonita yang selama perjalanan menjadi guide arah kami melalui pesan text.  Sambutan dari team BAT cukup hangat, kami disuguhi teh manis hangat dan gorengan sebagai welcome drink. Tak lama berselang, datanglah team caving guide dari BAT yang akan menemani dan membimbing kami selama caving di dalam goa. Team dari BAT ini memang sangat profesional dan berpengalaman karena untuk menjadi guide di sini harus memiliki sertifikasi khusus bertaraf internasional. Caving kali ini kami ditemani oleh Kang Iwenk sebagai leader guide, Kang Eko sebagai asisten guide dan Kang Atep sebagai leader team rescue. Mereka bertiga akan ikut turun dan masuk ke dalam goa untuk membimbing kami. Dalam aktivitas penyusuran goa, team BAT memiliki prosedur keamanan yang sangat profesional. Selain 3 orang guide yang ikut turun menyusuri goa, di atas tetap standby beberapa guide dan team rescue lainnya yang bertugas menyisir jika dalam durasi tertentu, para penelusur goa belum keluar dari goa.

Persiapan diawali dengan fitting wear pack (cover all) anti air, helm, sarung tangan dan sepatu boot yang telah disiapkan. Keluarga kami terdiri dari 5 orang, 2 orang dewasa (saya dan istri) dan ketiga anak kami. Anak terakhir kami Rangga sebagai peserta terkecil dan termuda (8 tahun) tidak mendapatkan wear pack dan sepatu boot yang berukuran sesuai dengan badannya yang kecil, untung kami sudah mempersiapkan dengan membawa sepatu boot anak dari rumah. Selain pakaian, head lamp dan harness juga sudah disiapkan team BAT untuk kita gunakan sampai kegiatan ini selesai. Kang Iwenk sebagai leader guide memberikan presentasi singkat terkait aktivitas dan aturan-aturan di dalam goa yang harus kita patuhi. Waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri goa ini kurang lebih 4 jam dengan jarak tempuh 1,500 km. Menurut Kang Iwenk, paling sedikit ada 3 hal yang harus kita patuhi selama kegiatan yaitu, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu. Kang Iwenk juga meyakinkan bahwa penelusuran goa ini akan berjalan aman selama kita mengikuti instruksi yang diberikan, ada surat pernyataan juga terkait hal tersebut yang harus ditandatangani oleh peserta caving.

Goa Buniayu

Team lengkap sebelum caving

Memulai Penelusuran Goa Buniayu, Let’s GO UNDER!!

Sebelum memulai aktifitas, kita berdoa bersama dulu agar aktifitas yang akan kita jalankan berjalan lancar dan selamat hingga selesai. Aktifitas caving diawali dengan memasuki mulut goa yang biasa disebut goa kerek, disebutkan demikian karena orang yang akan memasuki goa tersebut harus dikerek dulu menggunakan harness, tali dan peralatan safety lainnya. Di sini, kita diturunkan satu persatu sejauh 18 meter ke bawah permukaan tanah. Walaupun mulut goa sangat sempit, ternyata didalamnya memiliki ruangan semacam aula yang sangat luas. Di dalam goa, kita sangat bergantung terhadap alat penerangan head lamp yang dipasang di masing-masing helm peserta caving. Selain itu, team guide juga menggunakan boom (alat penerangan berbahan bakar karbit) yang cukup untuk menerangi perjalanan kita selama berada di dalam goa. Terdengar gemuruh suara air yang ternyata berasal dari aliran sungai dalam bumi yang terdapat di goa tersebut. Zona awal yang kami lalui di dalam goa adalah zona basah, dimana sebagian besar jalan yang kami lalui berupa aliran air sungai dengan kedalaman bervariasi. Goa buniayu ini sendiri sebenarnya adalah sistem aliran sungai bawah tanah yang terbentuk secara alami selama beratus-ratus bahkan ribuan tahun. Di beberapa titik lainnya, ada suara gemuruh air yang lebih keras yang ternyata adalah aliran air yang keluar ke permukaan bumi dalam bentuk air terjun.

Goa Buniayu

Siap diturunkan 18 meter ke dalam goa
Goa Buniayu

Walaupun mulut goa sempit, ternyata di dalamnya sangat luas

Banyak sekali ilmu pengetahuan tentang speleologi yang kami dapat selama perjalanan di dalam goa. Kang Iwenk, Kang Eko dan Kang Atep dengan detail menjelaskan bagaimana terbentuknya berbagai ornamen batuan karst yang sangat indah dalam goa seperti Stalakmit, Stalaktit, Gourdam, Canopy, Drapery, Flow stone dan Column. Singkatnya, berbagai ornamen indah tersebut terbentuk karena aliran dan tetesan air yang bergerak terus menerus selama ratusan hingga ribuan tahun. Batuan tersebut terus bergerak membentuk ornamen-ornamen cantik dari masa ke masa dengan gerakan yang sangat lambat, yaitu sekitar 1 mm per tahun. Sungguh merupakan ciptaan Allah yang Maha Dahsyat.

Goa Buniayu

Berbagai ornamen batuan karst yang ada di dalam goa

Fauna yang Terdapat di Dalam Goa Buniayu

Fauna yang terdapat di dalam goa sudah sangat sedikit, karena jarang sekali fauna yang dapat hidup di dalam kegelapan tanpa cahaya. Beberapa fauna yang masih kami temukan adalah beberapa serangga seperti jangkrik dan kala cemeti yang memiliki antena lebih panjang dari serangga biasanya. Hewan tersebut tidak dapat mendeteksi adanya gerakan dengan mata, namun dapat mendeteksi dengan antenanya, terbukti tidak bergerak ketika kita sinari jangkrik tersebut dengan cahaya lampu, namun langsung menyingkir ketika kita dekatkan dengan tangan. Selain jangkrik dan beberapa serangga sejenisnya, ada pula kelelawar yang hidup dalam goa tersebut yaitu kelelawar pemakan serangga dan kelelawar pemakan buah-buahan. Kelelawar tersebut menjadikan lorong goa sebagai rumah mereka. Menurut Kang Atep, ada pemandangan yang sangat sensasional menarik pada sore hari di mulut goa saat kelelawar-kelelawar tersebut keluar berbarengan dari mulut goa. Hewan lain yang sempat kami temukan adalah udang galah dan ikan, kemungkinan kedua hewan tersebut terbawa dari luar melalui aliran sungai yang masuk ke dalam goa. Di dalam goa tersebut ada juga hewan purba sejenis isopoda yang sudah terancam punah namun masih hidup, yaitu Stenasellus Javanicus. Bentuknya mirip seperti kelabang kecil berwarna merah jambu. Menurut Kang Iwenk, sebagai komitment team dalam menjaga keberlangsungan biota dalam goa tersebut, team BAT membatasi jumlah pengunjung yang akan melakukan kegiatan caving di dalam goa, karena jika tidak dibatasi, khawatir para caver justru akan merusak biota yang ada di dalam goa tersebut.

Baca juga: Mendaki Gunung Papandayan Bersama Keluarga

Struktur Goa dan Sensasi Kegelapan Abadi

Setengah perjalanan cukup melelahkan karena trekking di dalam goa harus dilalui dengan cara berjalan, memanjat, meluncur dan merayap. Belum lagi kita harus meloncat dan menggantung di antara celah-celah sempit dan dalam. Perjalanan dalam goa ini sebenarnya terdiri dari 4 lantai ke bawah, kita berjalan dari lantai satu menuju ke lantai empat yang merupakan lantai terbawah. Setiap pergantian lantai, para caver harus turun dengan berbagai cara untuk menuju ke lantai di bawahnya. Untungnya Kang Atep sudah menyiapkan logistik untuk kami semua. Kita mendapatkan air mineral dan sebatang coklat yang cukup untuk mengisi perut setelah setengah perjuangan yang cukup melelahkan. Zona kedua yang kami masuki setelah zona basah adalah zona kering, di dalam zona ini, aliran air sudah sangat sedikit, namun masih terdapat genangan air yang terjadi karena tetesan air dari langit-langit goa. Zona ini adalah zona terdalam karena kita berada 54 m di bawah permukaan tanah. Di zona ini kita sempat mencoba mematikan semua alat penerangan dan merasakan sensasi kegelapan abadi. Dalam kondisi ini, antara membuka dan memejamkan mata tidak ada bedanya. Di sini kita bisa merasakan dan bersyukur begitu berharganya indera mata dan cahaya yang diberikan Allah kepada kita semua.

Goa Buniayu

Harus merayap, meluncur, lompat diantara celah-celah sempit dan dalam
Goa Buniayu

Di posisi yang berbahaya, harus dipasang dulu pengaman dengan peralatan safety tools
Goa Buniayu

Di sungai yang cukup dalam, kang Iwenk dan Kang Eko sampai harus menggendong Rangga

Zona terakhir yang harus kami lewati adalah zona lumpur. Zona ini adalah zona terberat dari kedua zona sebelumnya karena sangat menguras tenaga. Walaupun hanya berjarak kurang lebih 200 m dari mulut keluar goa, namun harus melewati jalan berlumpur dan menanjak. Ketika kita menginjakan kaki di lumpur, kaki kita akan terpendam lumpur hingga nyaris ke lutut. Untuk mengangkat kaki kembali membutuhkan tenaga yang cukup kuat, jari-jari kaki dan telapak kaki kita juga harus menahan agar jangan sampai sepatu boot terlepas. Sampai di ujung zona ini terdapat tangga bambu dengan tinggi kurang lebih 4 meter. Untuk menuju keluar ke mulut goa, kita harus menaiki tangga ini hingga akhirnya kami kembali melihat sinar matahari setelah 4 jam berada di dalam perut bumi. Bisa dibayangkan, kondisi kami semua yang berantakan dan penuh dengan lumpur di seluruh tubuh kami.

Goa Buniayu

Kondisi kami beserta team caving guide setelah berjuang 4 jam di dalam kegelapan

Bersih-Bersih di Air Terjun Bibijilan

Dari mulut goa yang berada di tengah hutan pinus, kita berjalan menuju ke jalanan yang ternyata sudah disambut oleh minuman isotonik dingin yang juga disediakan oleh BAT. Terasa segar sekali setelah berjuang selama 4 jam di dalam kegelapan. Dari sini kami dijemput menggunakan mobil pick up menuju air terjun Bibijilan untuk membersihkan diri. Air terjun ini adalah salah satu air terjun yang airnya berasal dari dalam goa yang sebelumnya telah kami lewati. Sesuai dengan namanya ‘Bibijilan’ yaitu asal kata dari bahasa Sunda yang artinya ‘bermunculan‘, maksudnya adalah sumber air pada air terjun ini bermunculan dari dalam bumi. Pemandangan di air terjun ini sangat indah, sedikit mirip seperti Niagara yang berada di perbatasan Amerika – Canada, namun berukuran kecil. Berendam pada air terjun ini sudah cukup membuat hanyut semua lumpur yang menempel di tubuh kami.

Goa Buniayu

Naik mobil pick up menuju air terjun Bibijilan
Goa Buniayu

Bersih-bersih di air terjun Bibijilan

Selesai bersih-bersih, kami kembali diantar dengan mobil pick up menuju basecamp sebelumnya di area camping ground goa Buniayu. Di sana juga telah disiapkan makan siang ala Sunda yang sangat lezat. Mungkin karena lelah dan terasa sangat lapar, saya sekeluarga sangat lahap dengan sajian spesial dari BAT ini. Petualangan yang sangat exciting bagi kami. Penyusuran goa sangat bagus untuk pendidikan anak-anak di dalam keluarga, selain pengetahuan alam tentang speleologi, juga mendidik anak untuk berani, bertanggung jawab, mandiri, bertahan hidup dan mulai mengenal alam. Bagaimana dengan Anda, apakah siap menerima tantangan untuk menyusuri goa vertikal di Buniayu?

Video Klip Kami Ketika Menyusuri Goa Vertikal di Buniayu

2 Comments

Add a Comment
  1. Tadinya saya pikir yang menulis profesional. Ternyata sekeluarga dan bawa anak pula. Jadi penasaran, nih.

    1. Iya Mba…..kita keluarga rada nyeleneh…….sukanya liburan yg agak-agak menantang hahahahahaha

Leave a Comment

Copyright © Garis Batas 2015