Goa Buniayu, 4 jam Berada Dalam Perut Bumi - Garis Batas
Traveling

Goa Buniayu, 4 jam Berada Dalam Perut Bumi

on
December 28, 2017

Caving Goa Buniayu menjadi topik utama pada petualangan kami sekeluarga menelusuri goa di daerah Cipicung, Buniayu, Sukabumi. Expedisi goa yang menjadi tujuan kami adalah goa vertikal (goa kerek) yang memang ditujukan untuk para pengunjung yang memiliki minat khusus terhadap penelusuran goa. Sebenarnya selain goa vertikal, ada juga 2 goa horisontal yang banyak dikunjungi wisatawan dengan kategori minat umum penelusuran goa, namun kami memang bermaksud mencoba sesuatu yang baru dan lebih menantang.

Caving Goa Buniayu

Sebagian besar lorong goa adalah aliran sungai bawah tanah dengan kedalaman bervariasi

Sejarah Goa Buniayu dan Pengembangannya

Masyarakat sekitar biasa menyebut goa ini dengan nama goa Cipicung karena berada di kampung Cipicung, namun ada juga yang menyebutkan dengan nama goa siluman karena pada awalnya tidak ada yang berani masuk ke goa tersebut karena dipercaya banyak terdapat siluman yang menjaga goa tersebut. Goa ini sendiri tepatnya ada di kawasan Perhutani di kampung Cipicung, desa Kerta Angsana, Nyalindung, Sukabumi. Di sekitar kampung Cipicung ada lebih dari 84 goa yang semuanya saling berhubungan, namun hanya 3 goa saja yang dibuka sebagai kawasan wisata, yaitu goa Cipicung/Buniayu (200m), goa Landak (400m) dan goa Kerek (1,500m). Sejarahnya goa tersebut ditemukan oleh warga setempat bernama Ki Daeng, seorang yang memiliki hobi memancing yang sedang mencari ikan hingga memasuki goa tersebut. Namun baru di tahun 1980an dilakukan penelitian dan penelusuran goa oleh ilmuan Perancis bernama Dr. Robby KT. Ko yang merupakan pendiri HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia). Dan baru dibuka sebagai objek wisata sekitar tahun 1993. Dr. Robby KT. Ko inilah yang sangat berperan dalam mengembangkan goa Buniayu ini menjadi kawasan wisata. Selanjutnya Buniayu Adventure & Training (BAT) didirikan oleh salah satu lulusan terbaik dari HIKESPI bernama Pak Ferry Saputra yang bertujuan untuk semakin mengembangkan wisata goa (speleotourism) di wilayah tersebut. Maraknya penambangan batuan karst sebagai bahan baku semen menjadi salah satu penyebab rusaknya ekosistem yang ada di dalam goa, selain itu juga dapat mengganggu keseimbangan alam. Adanya wisata goa ini diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya kawasan karst di muka bumi ini karena dapat dapat menyimpan cadangan air yang dibutuhkan oleh semua mahluk hidup. SAVE KARST…….!!!

Penelusuran goa ini memang sudah kami rencanakan sejak  sebulan sebelumnya, kami dibantu oleh team dari Buniayu Adventure & Training (BAT) untuk mendapat kesempatan menelusuri goa Buniayu. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 3.5 jam dari kediaman kami di Depok untuk menuju ke lokasi. Sesuai anjuran dari Qonita, salah satu team dari BAT, jika menggunakan bantuan GPS, kami jangan langsung menuju ke Wana Wisata Goa Buniayu, namun harus menuju ke Terminal Jubleg dahulu, setelah sampai di terminal tersebut, baru kami lanjutkan GPS dengan tujuan Wana Wisata Goa Buniayu, hal tersebut agar tidak tersasar melalui jalan-jalan sempit yang ditunjukan oleh GPS.

Baca juga: Berkemah pada 1700mdpl di Kampung Cai Ranca Upas Ciwidey

Jam 8 pagi kami sudah tiba di basecamp BAT yang terletak di camping ground goa Buniayu, disambut oleh Qonita yang selama perjalanan menjadi guide arah kami melalui pesan text.  Sambutan dari team BAT cukup hangat, kami disuguhi teh manis hangat dan gorengan sebagai welcome drink. Tak lama berselang, datanglah team caving guide dari BAT yang akan menemani dan membimbing kami selama caving di dalam goa. Team dari BAT ini memang sangat profesional dan berpengalaman karena untuk menjadi guide di sini harus memiliki sertifikasi khusus bertaraf internasional. Caving kali ini kami ditemani oleh Kang Iwenk sebagai leader guide, Kang Eko sebagai asisten guide dan Kang Atep sebagai leader team rescue. Mereka bertiga akan ikut turun dan masuk ke dalam goa untuk membimbing kami. Dalam aktivitas penyusuran goa, team BAT memiliki prosedur keamanan yang sangat profesional. Selain 3 orang guide yang ikut turun menyusuri goa, di atas tetap standby beberapa guide dan team rescue lainnya yang bertugas menyisir jika dalam durasi tertentu, para penelusur goa belum keluar dari goa.

Persiapan diawali dengan fitting wear pack (cover all) anti air, helm, sarung tangan dan sepatu boot yang telah disiapkan. Keluarga kami terdiri dari 5 orang, 2 orang dewasa (saya dan istri) dan ketiga anak kami. Anak terakhir kami Rangga sebagai peserta terkecil dan termuda (8 tahun) tidak mendapatkan wear pack dan sepatu boot yang berukuran sesuai dengan badannya yang kecil, untung kami sudah mempersiapkan dengan membawa sepatu boot anak dari rumah. Selain pakaian, head lamp dan harness juga sudah disiapkan team BAT untuk kita gunakan sampai kegiatan ini selesai. Kang Iwenk sebagai leader guide memberikan presentasi singkat terkait aktivitas dan aturan-aturan di dalam goa yang harus kita patuhi. Waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri goa ini kurang lebih 4 jam dengan jarak tempuh 1,500 km. Menurut Kang Iwenk, paling sedikit ada 3 hal yang harus kita patuhi selama kegiatan yaitu, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu. Kang Iwenk juga meyakinkan bahwa penelusuran goa ini akan berjalan aman selama kita mengikuti instruksi yang diberikan, ada surat pernyataan juga terkait hal tersebut yang harus ditandatangani oleh peserta caving.

Caving Goa Buniayu

Team lengkap sebelum caving

Memulai Penelusuran Goa Buniayu, Let’s GO UNDER!!

Sebelum memulai aktifitas, kita berdoa bersama dulu agar aktifitas yang akan kita jalankan berjalan lancar dan selamat hingga selesai. Aktifitas caving diawali dengan memasuki mulut goa yang biasa disebut goa kerek, disebutkan demikian karena orang yang akan memasuki goa tersebut harus dikerek dulu menggunakan harness, tali dan peralatan safety lainnya. Di sini, kita diturunkan satu persatu sejauh 18 meter ke bawah permukaan tanah. Walaupun mulut goa sangat sempit, ternyata didalamnya memiliki ruangan semacam aula yang sangat luas. Di dalam goa, kita sangat bergantung terhadap alat penerangan head lamp yang dipasang di masing-masing helm peserta caving. Selain itu, team guide juga menggunakan boom (alat penerangan berbahan bakar karbit) yang cukup untuk menerangi perjalanan kita selama berada di dalam goa. Terdengar gemuruh suara air yang ternyata berasal dari aliran sungai dalam bumi yang terdapat di goa tersebut. Zona awal yang kami lalui di dalam goa adalah zona basah, dimana sebagian besar jalan yang kami lalui berupa aliran air sungai dengan kedalaman bervariasi. Goa buniayu ini sendiri sebenarnya adalah sistem aliran sungai bawah tanah yang terbentuk secara alami selama beratus-ratus bahkan ribuan tahun. Di beberapa titik lainnya, ada suara gemuruh air yang lebih keras yang ternyata adalah aliran air yang keluar ke permukaan bumi dalam bentuk air terjun.

Caving Goa Buniayu

Siap diturunkan 18 meter ke dalam goa
Caving Goa Buniayu

Walaupun mulut goa sempit, ternyata di dalamnya sangat luas

Banyak sekali ilmu pengetahuan tentang speleologi yang kami dapat selama perjalanan di dalam goa. Kang Iwenk, Kang Eko dan Kang Atep dengan detail menjelaskan bagaimana terbentuknya berbagai ornamen batuan karst yang sangat indah dalam goa seperti Stalakmit, Stalaktit, Gourdam, Canopy, Drapery, Flow stone dan Column. Singkatnya, berbagai ornamen indah tersebut terbentuk karena aliran dan tetesan air yang bergerak terus menerus selama ratusan hingga ribuan tahun. Batuan tersebut terus bergerak membentuk ornamen-ornamen cantik dari masa ke masa dengan gerakan yang sangat lambat, yaitu sekitar 1 mm per tahun. Sungguh merupakan ciptaan Allah yang Maha Dahsyat.

Caving Goa Buniayu

Berbagai ornamen batuan karst yang ada di dalam goa

Fauna yang Terdapat di Dalam Goa Buniayu

Fauna yang terdapat di dalam goa sudah sangat sedikit, karena jarang sekali fauna yang dapat hidup di dalam kegelapan tanpa cahaya. Beberapa fauna yang masih kami temukan adalah beberapa serangga seperti jangkrik dan kala cemeti yang memiliki antena lebih panjang dari serangga biasanya. Hewan tersebut tidak dapat mendeteksi adanya gerakan dengan mata, namun dapat mendeteksi dengan antenanya, terbukti tidak bergerak ketika kita sinari jangkrik tersebut dengan cahaya lampu, namun langsung menyingkir ketika kita dekatkan dengan tangan. Selain jangkrik dan beberapa serangga sejenisnya, ada pula kelelawar yang hidup dalam goa tersebut yaitu kelelawar pemakan serangga dan kelelawar pemakan buah-buahan. Kelelawar tersebut menjadikan lorong goa sebagai rumah mereka. Menurut Kang Atep, ada pemandangan yang sangat sensasional menarik pada sore hari di mulut goa saat kelelawar-kelelawar tersebut keluar berbarengan dari mulut goa. Hewan lain yang sempat kami temukan adalah udang galah dan ikan, kemungkinan kedua hewan tersebut terbawa dari luar melalui aliran sungai yang masuk ke dalam goa. Di dalam goa tersebut ada juga hewan purba sejenis isopoda yang sudah terancam punah namun masih hidup, yaitu Stenasellus Javanicus. Bentuknya mirip seperti kelabang kecil berwarna merah jambu. Menurut Kang Iwenk, sebagai komitment team dalam menjaga keberlangsungan biota dalam goa tersebut, team BAT membatasi jumlah pengunjung yang akan melakukan kegiatan caving di dalam goa, karena jika tidak dibatasi, khawatir para caver justru akan merusak biota yang ada di dalam goa tersebut.

Baca juga: Mendaki Gunung Papandayan Bersama Keluarga

Struktur Goa dan Sensasi Kegelapan Abadi

Setengah perjalanan cukup melelahkan karena trekking di dalam goa harus dilalui dengan cara berjalan, memanjat, meluncur dan merayap. Belum lagi kita harus meloncat dan menggantung di antara celah-celah sempit dan dalam. Perjalanan dalam goa ini sebenarnya terdiri dari 4 lantai ke bawah, kita berjalan dari lantai satu menuju ke lantai empat yang merupakan lantai terbawah. Setiap pergantian lantai, para caver harus turun dengan berbagai cara untuk menuju ke lantai di bawahnya. Untungnya Kang Atep sudah menyiapkan logistik untuk kami semua. Kita mendapatkan air mineral dan sebatang coklat yang cukup untuk mengisi perut setelah setengah perjuangan yang cukup melelahkan. Zona kedua yang kami masuki setelah zona basah adalah zona kering, di dalam zona ini, aliran air sudah sangat sedikit, namun masih terdapat genangan air yang terjadi karena tetesan air dari langit-langit goa. Zona ini adalah zona terdalam karena kita berada 54 m di bawah permukaan tanah. Di zona ini kita sempat mencoba mematikan semua alat penerangan dan merasakan sensasi kegelapan abadi. Dalam kondisi ini, antara membuka dan memejamkan mata tidak ada bedanya. Di sini kita bisa merasakan dan bersyukur begitu berharganya indera mata dan cahaya yang diberikan Allah kepada kita semua.

Caving Goa Buniayu

Harus merayap, meluncur, lompat diantara celah-celah sempit dan dalam
Caving Goa Buniayu

Di posisi yang berbahaya, harus dipasang dulu pengaman dengan peralatan safety tools
Caving Goa Buniayu

Di sungai yang cukup dalam, kang Iwenk dan Kang Eko sampai harus menggendong Rangga

Zona terakhir yang harus kami lewati adalah zona lumpur. Zona ini adalah zona terberat dari kedua zona sebelumnya karena sangat menguras tenaga. Walaupun hanya berjarak kurang lebih 200 m dari mulut keluar goa, namun harus melewati jalan berlumpur dan menanjak. Ketika kita menginjakan kaki di lumpur, kaki kita akan terpendam lumpur hingga nyaris ke lutut. Untuk mengangkat kaki kembali membutuhkan tenaga yang cukup kuat, jari-jari kaki dan telapak kaki kita juga harus menahan agar jangan sampai sepatu boot terlepas. Sampai di ujung zona ini terdapat tangga bambu dengan tinggi kurang lebih 4 meter. Untuk menuju keluar ke mulut goa, kita harus menaiki tangga ini hingga akhirnya kami kembali melihat sinar matahari setelah 4 jam berada di dalam perut bumi. Bisa dibayangkan, kondisi kami semua yang berantakan dan penuh dengan lumpur di seluruh tubuh kami.

Caving Goa Buniayu

Kondisi kami beserta team caving guide setelah berjuang 4 jam di dalam kegelapan

Bersih-Bersih di Air Terjun Bibijilan

Dari mulut goa yang berada di tengah hutan pinus, kita berjalan menuju ke jalanan yang ternyata sudah disambut oleh minuman isotonik dingin yang juga disediakan oleh BAT. Terasa segar sekali setelah berjuang selama 4 jam di dalam kegelapan. Dari sini kami dijemput menggunakan mobil pick up menuju air terjun Bibijilan untuk membersihkan diri. Air terjun ini adalah salah satu air terjun yang airnya berasal dari dalam goa yang sebelumnya telah kami lewati. Sesuai dengan namanya ‘Bibijilan’ yaitu asal kata dari bahasa Sunda yang artinya ‘bermunculan‘, maksudnya adalah sumber air pada air terjun ini bermunculan dari dalam bumi. Pemandangan di air terjun ini sangat indah, sedikit mirip seperti Niagara yang berada di perbatasan Amerika – Canada, namun berukuran kecil. Berendam pada air terjun ini sudah cukup membuat hanyut semua lumpur yang menempel di tubuh kami.

Caving Goa Buniayu

Naik mobil pick up menuju air terjun Bibijilan
Caving Goa Buniayu

Bersih-bersih di air terjun Bibijilan

Selesai bersih-bersih, kami kembali diantar dengan mobil pick up menuju basecamp sebelumnya di area camping ground goa Buniayu. Di sana juga telah disiapkan makan siang ala Sunda yang sangat lezat. Mungkin karena lelah dan terasa sangat lapar, saya sekeluarga sangat lahap dengan sajian spesial dari BAT ini. Petualangan yang sangat exciting bagi kami. Penyusuran goa sangat bagus untuk pendidikan anak-anak di dalam keluarga, selain pengetahuan alam tentang speleologi, juga mendidik anak untuk berani, bertanggung jawab, mandiri, bertahan hidup dan mulai mengenal alam. Bagaimana dengan Anda, apakah siap menerima tantangan untuk menyusuri goa vertikal di Buniayu?

Video Kami Ketika Menyusuri Goa Buniayu

TAGS
RELATED POSTS
24 Comments
  1. Reply

    Dyah

    December 29, 2017

    Tadinya saya pikir yang menulis profesional. Ternyata sekeluarga dan bawa anak pula. Jadi penasaran, nih.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      December 29, 2017

      Iya Mba…..kita keluarga rada nyeleneh…….sukanya liburan yg agak-agak menantang hahahahahaha

  2. Reply

    Ari

    February 4, 2018

    Liburan yang sempurna…

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 4, 2018

      Terima kasih 🙂

  3. Reply

    siti mudrikah

    February 11, 2018

    petualangan yang luar biasa, duh itu pas lewatin zona lumpur pasti licin banget, aku baru denger ini gua buniayu.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 11, 2018

      Bukan hanya licin, tapi kaki kita terbenam nyaris ke lutut, dan butuh tenaga extra untuk mengangkatnya kembali

  4. Reply

    Oline

    February 18, 2018

    Pengalaman yang menyeramkan tapi seru yah itu masuk2 ke gua begitu..

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 18, 2018

      Iya Mba, walaupun seram tapi menantang buat kami Mba hehehehe

  5. Reply

    ahmadi sultan

    February 18, 2018

    Seru banget bertualang di dalam gua. Mana gua-nya kece lagi. Dari Jakarta ke Sukabumi gak jauh-jauh amat nih kalo lagi main lagi ke Jakarta, sekalian ke Sukabumi.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 18, 2018

      Iya Om, hanya kurang lebih 3 jam dari Jakarta……kalo suka petualangan, gak nyesel kok

  6. Reply

    lialathifa

    February 19, 2018

    Ya Allah, keren banget mas. Sekeluarga kompak menikmati kekuasaan Allah, apalagi Rangga sepertinya sangat menikmati ya. Salut

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 19, 2018

      Iya Mba, exciting banget dia…..apalagi ini pertama kali buat dia masuk goa yang sampe nyebur2 dan basah2an hehehehe…..BTW makasih ya Mba udah mampir ke blog ini…..salam untuk keluarga 🙂

  7. Reply

    Gallant Tsany Abdillah

    February 19, 2018

    Waaahh seru abis itu caving!!
    Di dalem bener bener tanpa cahaya ya, Om? Gila gilaa pengen bangeeett.
    Abis capek caving terus mandi di air terjun. Mantap

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 19, 2018

      Seru banget Om……kalo gak pake bantuan alat penerangan, di dalam melek dan merem gak ada bedanya Om

  8. Reply

    Retno

    February 19, 2018

    kereeen…. perjalanan yang butuh nyali, adik rangga juga keren banget, salut sama keberaniannya…

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 19, 2018

      Makasih Mba……kalo Rangganya sih gak ada masalah, yg harus dibujuk dulu justru Mommy-nya hahahahahaha

  9. Reply

    Mizana Chaerunnisa

    February 20, 2018

    Jadi pengen ikutan masuk ke goanya, tapi kalau diliat cara masuknya yang ekstrem jadi mikir beberapa kali hahaha. Butuh persiapan fisik juga sepertinya ya? Apalagi saya yang gak kuat beraktifitas ^^a tapi memang terbayarkan dengan pemandangan di dalam goa. Pengalaman dan sensasinya juga luar biasa pastinya 😀

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 20, 2018

      Benar Mba,…..cobain Mba, pasti jadi ketagihan hehehehehe

  10. Reply

    imeldasutarno

    February 21, 2018

    ya ampun ini seru banget, berani bawa si kecil extreme adventure begini. Semoga suatu saat saya juga kesampean bawa anak-anak wisata kayak gini. Salam kenal ya mas 🙂

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 21, 2018

      Bener mba, sekali2 harus wisata yg spt ini, kalo ke mall terus nanti anak2 gak kenal sama alam hehehehe. Salam kenal Mba, salam untuk keluarga 🙂

  11. Reply

    lianny hendrawati

    February 21, 2018

    Wah hebat si Rangga, kecil2 pemberani. Aku ngeliat kedalaman gua aja udah ngeriii haha. Tapi seru juga ya sekeluarga kompak seperti ini.

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 21, 2018

      Musti dicoba Mba supaya pobianya bisa hilang :D…..btw salam kenal ya Mba

  12. Reply

    Ella

    February 21, 2018

    Waaahhh, ini beneran di dalam perut bumiii, uh menyusur goa sampai 4 jam.. Kl aku udah kelaparan di dalam goa, kalah sama jagoan kecil.. Hhh

    • Reply

      Mauliddin Moko

      February 21, 2018

      Bener Mba, hingga 54m di bawah permukaan tanah…..di dalam kita dapat coklat plus air mineral kok Mba 🙂

Leave a Comment